Sabtu, 16 Maret 2013

Masalah Niat Dalam Puasa Ramadhan


Masalah Niat Dalam Puasa Ramadhan

Puasa ramadlan tidak sah tanpa adanya niat, berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

إنما الأعمال بالنيات ، وإن لكل امرئ ما نوى

“Sahnya perbuatan hanya dengan niat. Dan bagi seseorang apa yang ia niatkan”. (HR. Al-Buhkari dan Muslim dari Umar bin Khathab).

Tidak sahnya puasa tanpa niat juga disebabkan karena puasa adalah ibadah mahdlah(Ibadah murni), seperti halnya shalat. Tidak seperti ‘iddah bagi wanita, membayar hutang dan sejenisnya. Di sini niat tidak diperlukan karena bukan termasuk ibadah mahdlah.

Keterangan di atas adalah madzhab Imam As-Syafi’i, baik puasa wajib atau puasa sunnat, serta tidak ada perpedaan pendapat di kalangan Syafi’iyah. Madzhab Syafi’iyah juga menjelaskan bahwa tempat niat adalah hati. Mengucapkan niat puasa bukan merupakan syarat, bahkan puasa tidak sah hanya dengan mengucapkan niat puasa tanpa adanya niat dalam hati. Hukumnya mengucapkan niat adalah sunat seperti dalam wudlu’ dan shalat.

Niat puasa wajib dilakukan setiap hari, karena puasa dalam setiap hari adalah ibadah tersendiri yang dimulai dari terbitnya fajar sampai terbenam matahari. Satu hari puasa tidak terpengaruh oleh batalnya puasa di hari sebelumnya atau sesudahnya. Hal ini berlaku untuk semua jenis puasa, baik wajib atau sunah. Inipun tidak ada perbedaan pendapat dikalangan Syafi’iyah. Dengan demikian jika seseorang niat di malam pertama ramadlan untuk melakukan puasa selama satu bulan penuh, maka puasa tidak sah kecuali untuk hari pertama saja.

Imam Malik mengatakan bahwa jika seseorang niat pada malam pertama ramadhan untuk puasa keseluruhan ramadhan, maka dianggap cukup dan sah serta tidak perlu memperbaharuinya setiap malam, karena keseluruhan puasa ramadhan adalah satu ibadah, hingga sekali niat saja sudah sah, seperti haji yang mempunyai beberapa pekerjaan dan shalat dengan jumlah rakaatnya.

Puasa ramadlan, begitu pula puasa wajib yang lain seperti puasa nadzar dan kafarah, tidak sah dengan niat di siang hari. Niatnya harus dilakukan pada malam hari (tabyit an-Niyah). Hal ini berdasarkan hadits Sayidah Hafshah binti Umar, isteri Rasulullah SAW, bahwa Rasulullah bersabda:

من لم يبيت الصيام من الليل فلا صيام له

“Barang siapa tidak melakukan niat puasa dimalam hari, maka tidak ada puasa sah baginya”.

Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan lain-lain dengan sanad yang berbeda-beda. Diriwayatkan pula dalam bentuk hadits marfu’, dan mawquf dari riwayat Az-Zuhri dari Salim bin Abdillah bin Umar dari Ibnu Umar dari Hafshah –radliyallahu anhum—dengan sanad shahih.

Sebagian ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa jika seseorang niat sebelum terbenam mata hari kurang sedikit untuk puasa esok hari atau setelah terbitnya fajar lebih sedikit, maka puasanya tidak sah. Jika niatnya bersamaan dengan terbitnya fajar maka ada dua pendapat dan yang shahih adalah tidak sah.

Waktu niat puasa dimulai dari terbenam matahari hingga terbit fajar. Segolongan ulama berpendapat waktunya adalah separuh terakhir malam. Jika sudah melakukan niat puasa lalu mengerjakan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, jimak dan lain-lain sementara fajar belum  terbit, maka hal ini tidak berakibat batalnya puasa dan tidak perlu memperbarui niat.

Niat puasa harus ta’yin (jelas). Jika pada malam tanggal 30 sya’ban niat puasa seperti dengan “Jika besok adalah tanggal 1 Ramadlan, maka saya niat puasa besok”, maka puasa tidak sah, karena tidak adanya niat murni untuk puasa ramadlan dan masih adanya keragu-raguan.

Niat yang mencukupi untuk puasa ramadlan adalah :

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaytu showma ghodin ‘an ada’i fardli romadloni hadzihis sanati lillahi ta’ala

Saya niat puasa besok untuk melaksanakan kewajiban puasa ramadlan tahun ini karena Allah Ta’ala.

Lafadz “ramadlan” dibaca “ramadlani” (nunnya dibaca kasroh) karena diidhafahkan pada hadzihis sanah. Artinya “melaksanakan kewajiban puasa ramadlan tahun ini”. Dalam kitab Hasyiyah al-Bajury ala Fathil Qarib, bila diucapkan “ramadlana” (nun dibaca fathah), niat masih belum ta’yin (jelas) karena artinya adalah “melaksanakan kewajiban puasa ramadlan (yang dilakukan) pada tahun ini”. Bisa jadi puasa yang diniati bukan untuk melakukan kewajiban puasa ramadlan tahun ini, tetapi untuk tahun lalu dan lain sebagainya.

Namun menurut kalangan Syafi’iyah yang berasal dari daerah Khurasan, hal ini tidak menyebabkan batalnya puasa, karena ini hanya kekeliruan penyebutan, tetapi pada hakikatnya niat itu adalah untuk puasa besok untuk ramadlan tahun ini, bukan untuk ramadhan tahun kemarin, apalagi untuk tahun depan.

Wallahu A’lam Bish Shawab

Sumber: Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar